SELAMAT BERKUNJUNG,BERGABUNG MENJALIN IKATAN KEMITRAAN

Jalinan Kemitraan digalang oleh rasa simpati yang menggerakkan diri tuk berbuat "satu" namun memberi "seribu satu" makna,bagi eksistensi organisasi dan menciptakan karsa bagi mereka [Tunanetra]menghilangkan sikap stereotype,diskriminatif dan antipati sehingga mereka dapat eksis dalam kehidupan menuju penyetaraan [Berbuat Untuk Tunanetra,Berbuat Untuk Semua] Bagi sahabat yang ingin berbagi dan mendukung Program Kami,Kampanyekan Blog ini dengan mengcopy Banner Komunitas Peduli Tunanetra.Klik Disini
Buat Para Sahabat Pengunjung ,Blogger,Anggota KAPTEN MITRA,dan Anggota BAMPER XII,kami tunggu masukan dan sarannya yah, demi membangun organisasi kami dan terkhusus kepada para penyandang cacat khususnya Tunanetra.
Kami merekomendasikan Anda untuk mempergunakan Mozilla FireFox Web Development & Hosting

Rabu, April 09, 2008

Khusus ATM Tunanetra, ATM Bisa 'Bicara'

(Monday, 24 July 2006) - - Terakhir diperbaharui (Tuesday, 25 July 2006)
detikInet Jakarta, Anda seorang tunanetra yang sering minta bantuan orang berpenglihatan nornal untuk melakukan penarikan uang tunai di mesin ATM? Kini telah hadir mesin ATM untuk tunanetra, perangkat anjungan tunai mandiri yang memungkinkan tunanetra bertransaksi tanpa bantuan orang lain.
Adalah Ron Boutte, warga San Fransisco Amerika yang mengalami kebutaan sejak usianya 10 tahun. Ia sangat mahir menggunakan mesin ATM. Dengan meraba huruf braille (huruf timbul khusus untuk tunanetra) yang terdapat pada tombol, serta mengingat dengan baik menu-menu yang ada pada mesin ATM, ia dapat menarik uang tunai atau bertransaksi tanpa menemui kesulitan.
Namun demikian, perkara mengambil uang ternyata tak semudah menggerakkan jari dan menekan tombol braille. Pria berusia 44 tahun ini tetap tak dapat melihat informasi yang tertera di layar. Ia tak tahu, apakah mesin ATM tersebut rusak, atau terdapat kesalahan dalam proses transaksi yang dilakukannya. Lalu, apa yang akan Boutte lakukan? Meminta orang lain untuk membacakan informasi di ATM tersebut? Apa jadinya kalau tak ada seorang pun disana, sementara Boutte sangat membutuhkan uang untuk keperluannya?
Masalah seperti ini tentunya juga dialami tunanetra di negara lain. Kalau tidak membawa teman, biasanya si tunanetra minta bantuan orang di sekeliling ATM . Bukankah hal itu sangat merepotkan dan beresiko tinggi?
Tetapi, kini Boutte dan tunanetra yang berdomisili di San Fransisco tak perlu lagi khawatir. Mereka sudah dapat menikmati ATM bicara yang ditempatkan di kantor perpajakan kota, serta berbagai sarana umum di pusat kota.
Untuk menemukan lokasi ATM bicara, tunanetra cukup mengandalkan semacam alat infra merah yang akan memberikan petunjuk berupa sinyal suara. Semakin dekat lokasi ATM bicara dengan tunanetra yang membawa alat tersebut, maka suara sinyalnya akan semakin keras.
Ketika tunanetra tiba di ATM, ia dapat mendengarkan instruksi transaksi melalui headset. "Please insert your card and enter your authorization number", begitulah kira-kira pesan suara yang akan terdengar ketika tunanetra mulai mengaktifkan mesin ATM tersebut.
Selanjutnya, pesan suara akan memberitahukan tombol dan menu apa saja yang telah ditekan, termasuk informasi menu, dan status transaksi. Jika transaksi berhasil atau gagal, tunanetra juga dapat langsung mengetahuinya.
"Saya merasa sangat terbantu dengan adanya ATM bicara ini. Saya dapat melakukan proses bisnis seperti halnya orang berpenglihatan," tutur Damien Pickering, ketua organisasi tunanetra Rose Resnick yang juga tunanetra.
Menurut dia, ATM bicara merupakan terobosan baru yang memungkinkan tunanetra untuk melakukan transaksi secara mandiri. "Saya tak harus meminta orang lain untuk membacakan tulisan di layar atau buku tabungan, jadi privasi dan keamanan uang lebih terjaga," tambahnya.
Ternyata untuk mengembangkan sebuah mesin ATM bicara tidaklah mudah. Menurut Leal, sebuah ATM yang memiliki perangkat audio synthesizer (sistem yang mampu membacakan tulisan di layar monitor) membutuhkan dana USD 200 sampai USD 500. Itulah faktor utama yang membuat bank-bank enggan menyediakan perangkat asistif tersebut, karena biayanya terlalu mahal dan tentu saja mengurangi keuntungan bank itu sendiri.
Namun, Leal tidak menyerah dan akhirnya berhasil meyakinkan bank-bank di kotanya bahwa tunanetra juga salah satu bagian dari aset bisnis mereka. Hal tersebut didukung dengan perkembangan teknologi audio yang semakin canggih,yang berhasil menekan biaya pembuatan ATM bicara. Tahun 2006 ini saja, biaya pembuatan sebuah ATM agar bisa bicara hanya membutuhkan kurang dari USD 100.
"Saya merasa perlu pro aktif, karena bank-bank disini telah mendapat amanat resmi dari negara untuk menjalankan proyek ini," jelas Leal. Ia menambahkan bahwa semua bank seharusnya dapat mencontoh Citibank dan Wells Vargo,dua bank terkemuka yang telah menyediakan layanan ATM bicara.
Lalu, teknologi apa yang terimplementasi dalam ATM bicara? Untuk mengubah huruf huruf dan angka menjadi bentuk keluaran suara, ATM bicara dilengkapi dengan piranti lunak pembaca layar yang akan menyuarakan setiap menu dan angka yang muncul di layar. Ada juga yang menerapkan teknik audio recording, yaitu merekam bacaan menu-menu yang telah baku dan menyimpannya dalam chip khusus. Untuk satuan angka, rekamannya pun dibuat sesuai kebutuhan. Jadi, suaranya akan terdengar bagus karena langsung diambil dari rekaman suara manusia. Teknologi ini juga diterapkan dalam mesin penjawab telepon dan instruksi menu layanan kartu seluler.
ATM bicara, seperti yang telah dikembangkan di atas, mungkin saja bukan sebuah "barang baru" yang up-to-date di dunia bisnis internasional. Namun, hal ini tentu menjadi tantangan bagi kita, karena hingga saat ini Indonesia belum memiliki ATM bicara. Kalau ada pun teknologinya masih sederhana dan hanya dipakai untuk kepentingan promosi atau acara kuis.
Memang untuk mengembangkannya dibutuhkan biaya yang tidak sedikit. Namun, bila pihak-pihak terkait, dalam hal ini pemerintah dan perbankan bersedia bekerja sama, bukan tidak mungkin kalau hal serupa juga dapat diwujudkan di Indonesia.
http://www.nad.go.id - .:..:.Pemerintah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.:..:.
Bertenaga by KerSip Open Source
Dibuat: 10 March, 2008, 05:35

Postingan Terkait Lainnya :


Widget by BAMPERXII.Co.cc

Your cOmment"s Here! Hover Your cUrsOr to leave a cOmment.

Kata Mereka

Ketua DPD PERTUNI SULSEL Hamzah M.Yamin
Dengan adanya website ini, memberikan warna tersendiri mengenai penyandang cacat, terkhusus tunanetra, media website menjadi salah satu bentuk sosialisasi yang sangat bagus dengan jangkauan internasional,sehingga upaya mempublikasikan sahabat tunanetra dapat terjangkau secara menyeluruh. Aksi yang dilakukan BAMPER XII sebagai organisasi volunter / mitra PERTUNI sangat membantu kinerja DPD PERTUNI SULSEL dan penyandang tunanetra khususnya, teruslah memberikan satu kebaikan kepada mereka yang membutuhkan