SELAMAT BERKUNJUNG,BERGABUNG MENJALIN IKATAN KEMITRAAN

Jalinan Kemitraan digalang oleh rasa simpati yang menggerakkan diri tuk berbuat "satu" namun memberi "seribu satu" makna,bagi eksistensi organisasi dan menciptakan karsa bagi mereka [Tunanetra]menghilangkan sikap stereotype,diskriminatif dan antipati sehingga mereka dapat eksis dalam kehidupan menuju penyetaraan [Berbuat Untuk Tunanetra,Berbuat Untuk Semua] Bagi sahabat yang ingin berbagi dan mendukung Program Kami,Kampanyekan Blog ini dengan mengcopy Banner Komunitas Peduli Tunanetra.Klik Disini
Buat Para Sahabat Pengunjung ,Blogger,Anggota KAPTEN MITRA,dan Anggota BAMPER XII,kami tunggu masukan dan sarannya yah, demi membangun organisasi kami dan terkhusus kepada para penyandang cacat khususnya Tunanetra.
Kami merekomendasikan Anda untuk mempergunakan Mozilla FireFox Web Development & Hosting

Sabtu, Desember 27, 2008

Stop diskriminasi

Oleh:Sujono sa’id

Saya (penulis) yakin bahwa setiap kaum minoritas seperti agama, suku, masyarakat miskin, serta penyandang cacat sejak lahir sudah mendambakan yang namanya pembebasan dari Diskriminasi dan marginalisasi dari berbagai pihak. Saya juga ingin menjelaskan mengapa golongan-golongan yang sudah saya(penulis) sebutkan diatas sekarang ini sedang dilanda diskriminasi? Tentu ada penyebabnya tergantung siapa yang di diskriminasikan kita mulai dari agama, agama tertentu apalagi agama yang minoritas, di diskriminasikan oleh sebahagian orang dikarenakan sebahagian orang khususnya orang-orang yang terlalu ekstrim terhadap aturan agama yang dianutnya menyebabkan agama yang sedikit penganutnya terisolasi.Begitupun dengan suku-suku tertentu, mereka di diskriminasikan oleh suku yang mayoritas dikarenakan sebahagian penduduk dari lingkungan sekitar mereka lagi-lagi terlalu sempit menilai terhadap suku minoritas tersebut yang penyebabnya adalah factor kurangnya pengetahuan mereka tentang ajaran agama yang mereka anut sendiri serta ajaran agama minoritas yang mereka sendiri diskriditkan, sungguh ini sangat lebih dari keterlaluan dan hal ini saya rasa sangat menyedihkan serta membuat mereka tertekan.
Begitupun dengan masyarakat miskin, apalagi masyarakat yang sudah tidak berdaya juga di diskriminasikan karena mereka tidak memiliki sesuatu yang dapat membuat masyarakat mau menerimanya seperti ilmu, harta, serta pangkat dan kedudukan. Padahal, mereka-mereka yang menjadi pelaku diskriminasi harusnya sadar bahwa masyarakat miskin adalah lading amal bagi mereka, seharusnya mereka dirangkul, dan diproteksi. Bukannya di diskriditkan, di isolasi, dan di kucilkan , serta dijauhi.
Penyandang cacat mendapat perlakuan diskriminasi oleh sebahagian orang dikarenakan oleh masyarakat beranggapan bahwa penyandang cacat adalah beban, aib, pembawa sial, atau dalam bahasa bugis dikenal dengan istilah parompa-rompai, dalam bahasa selayar dikenal dengan istilah appakasusa atau sebagai orang yang akan membawa beban berat, dan dalam bahasa Makassar dikenal dengan istilah paganna-ganna atau pelengkap dalam kehidupan ini. Namun, atas berkat rahmat ilahi, kita sudah sedikit dapat menghirup udara segar, karena sudah sedikit memperoleh hak mereka.
Sekarang ini, statement-statement yang saya(penulis) sebutkan di atas, kini sudah hamper tidak terdengar dan sangat patutlah kita syukuri, karena semua itu adalah campur tangan ilahi yang di lakukan melalui tangan-tangan manusia mulia sebagai medianya, tapi masalahnya lain lagini sekarang ya! Sekarang ini statement-statement yang saya(penulis) sebutkan di atas, sudah tidak ada tapi yang jadi masalah adalah tentang apa yang harus mereka perbuat untuk menunjukkan kepedulian mereka terhadap penyandang cacat. Eh, sorry saya terlalu terlena hamper aja saya lupa kalau saya sebenarnya ingin menuliskan harapan saya pribadi selaku tunanetra serta harapan teman-teman penyandang cacat khususnya kaum tunanetra untuk menikmati indahnya kesamaan dibalik sebuah perbedaan. Sebelum jauh melangkah, tentu ada sebuah renungan yaitu sebagai berikut siapa Yang harus melepaskan penyandang cacat dari diskriminasi?, serta bagaimana caranya? Yang harus melepaskan para penyandang cacat dari diskriminasi adalah diri mereka sendiri, sebab jika diri mereka sendiri yang berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan tersebut, maka orang lain tentu akan turut bersimpati atas keinginan mereka.

Cara mereka melepaskan diri dari diskriminasi adalah tergantung kapasitas mereka apakah sebagai seorang pelajar, atau masyarakat biasa. Jika mereka adalah seorang pelajar, tentu mereka harus belajar dengan sungguh-sungguh dengan menggunakan indra yang dapat mereka gunakan yaitu indra pendengar dan memori ingatan serta analisa kritis, dan kemampuan mereka bersahabat dengan lokasi.
Hal yang saya(penulis) sebutkan diatas, adalah hal yang diperuntukkan kepada kaum penyandang cacat yang membaur dengan pelajar dari kalangan SMU regular dan kalangan mahasiswa jurusan selain dari jurusan pendidikan luar biasa. Belajar dengan menggunakan indra yang tersisa berlaku bagi teman-teman penyandang tunanetra, yang sudah kehilangan indra fisualnya, sehingga hanya dapat menggunakan memori, indra pendengaran, serta analisa kritis terhadap segala sesuatu di alam sekitarnya.
Tunarungu, yang telah kehilangan indra pendengaran serta tidak berfungsinya indra bicaranya, sehingga harus menggunakan indra fisual untuk mendeteksi isyarat dari guru seperti model bibir, isyarat dalam bentuk gerakan tangan, serta isyarat dalam bentuk informasi yang di tulis di sebuah buku, kertas, atau dari atas sebuah wite board atau LCD.Jika kaum penyandang cacat adalah individu atau kelompok yang telah menjadi sebuah keluarga dan telah membaur dengan masyarakat sekitar, tentu cara yang harus mereka tempu untuk melepaskan diri dari marginalisasi adalah mengubah image masyarakat sekitar bahwa kaum penyandangcacat bukan orang yang akan membawa beban, pembawa sial, dan sampah masyarakat menjadi image yang menggambarkan bahwa penyandang cacat adalah pembawa manfaat bagi masyarakat di daerah sekitar.
Hal yang mereka lakukan adalah melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat sesuai dengan kemampuan serta keahlian yang mereka miliki, maka dengan sendirinya masyarakat akan menaruh simpati untuk memberikan dukungan serta apresiasi kepada mereka atas profesionalisme mereka bukan karena rasa kasihan terhadap mereka.
Selain diri mereka sendiri, yang harus melepaskan mereka dari diskriminasi adalah keluarga, sebab keluarga adalah penentu akan masa depan mereka serta mediator mereka untuk menjalani dan mengisi kehidupan mereka, serta keluargalah yang seharusnya menutupi kekurangan mereka. Hal yang harus dilakukan oleh keluarga penyandang cacat adalah tidak meng isolasi mereka dari keluarga, memberikan pendidikan yang layak, serta tidak membatasi ruang gerak mereka dalam ber kreasi.
Selain keluarga, yang harus melepaskan para penyandangcacat dari diskriminasi dan marginalisasi adalah masyarakat yang merasa diri memiliki kepedulian yang tinggi dan tidak didasari oleh rasa kasihan tetapi didasari oleh rasa kepedulian.
Masyarakat sekitar sebagai bagian dari penyandang cacat yang tinggal di sekitar rumah mereka, seharusnya mau menerima manusia yang tergolong sedikit kurang beruntung untuk hidup bersama-sama dengan mereka, serta menikmati kehidupan yang layak, serta mempergauli mereka dengan tidak berlebihan dan tidak di tekan.
Masyarakatlah yang harus melepaskan penyandang cacat dari belenggu diskriminasi dan marginalisasi dengan potensi mereka. Jika salah satu dari mereka adalah pelajar, maka cara yang harus mereka tempu adalah mempermudah pelajar dari kalangan penyandang cacat dalam menjalani proses belajar mengajar, serta mempergauli mereka di sekolah dengan baik. Jika salah satu dari mereka adalah tenaga pendidik, yang harus mereka lakukan adalah mengajar dengan metode yang dapat merangkul siswa regular dan penyandang cacat, serta tidak mempersulit pelajar dari kalangan penyandang cacat.

Jika mereka adalah seorang atfokat, seharusnya mereka mendampingi kaum penyandang cacat yang haknya ter aniaya seperti hak untuk memperoleh pendidikan yang layak, memperoleh pekerjaan yang layak, dan penghidupan yang layak.
Jika salah satu dari mereka adalah orang-orang yang menekuni dunia jurnalistik, maka seharusnya mereka memberikan informasi tentang keberadaan penyandang cacat, mempublikasikan penyandang cacat, serta memberikan informasi tentang keberadaan sekolah Luarbiasa untuk penyandang cacat yang belum tersentuh pendidikan.
Selain masyarakat, diri mereka sendiri, dan keluarga mereka, yang harus melepaskan penyandang cacat dari diskriminasi adalah penentu kebijakan seperti menteri pendidikan, menteri pemberdayaan umum, dan menteri hokum dan ham. Sedangkan cara yang harus mereka tempu adalah dalam bentuk kebijakan public, serta pengadaan sarana untuk kelangsungan hidup mereka seperti sarana aksesibilitas, sarana layanan pendidikan, dan peraturan yang mengatur kewajiban dan hak mereka sebagai seorang manusia.
Penyandang cacat juga adalah manusia yang tidak memiliki hak yang ber beda dengan masyarakat lain tetapi cara melaksanakan kewajiban mereka yang agak sedikit berbeda tergantung daripada kondisi dari kaum penyandang cacat itu sendiri. Berikut saya(penulis) akan memberikan contoh masyarakat yang telahmelakukan tindakan yang merupakan wujud apresiasi mereka terhadap penyandang cacat baik sebagai pendidik, maupun sebagai pelajar yang telah penulis temui dan di dukung oleh pengalaman penulis.
Aulia susantri salah seorang pelajar yang telah melakukan suatu tindakan yang merupakan sebuah wujud apresiasinya terhadap kaum penyandang cacat terkhusus kepada tunanetra tindakan yang telah ia lakukan adalah mempermudah penulis untuk mengikuti proses belajar mengajar, begitu juga dengan Indra wait yang juga telah melakukan hal yang sama, Syamsul, yang juga melakukan hal yang dilakukan oleh Aulia dan Indra diatas karena menurutnya ia sangat terbantu oleh penyandang cacat.
Contoh pendidik yang sangat peduli terhadap penyandang cacat terkhusus kepada kaum tunanetra adalah Ibu Evi Yuliati salah seorang guru sebuah SMU negeri yang berlokasi di Jalan cakalang dan bertetangga dengan SMP negeri tujuh(7) yang telah menunjukkan kepeduliannya dalam bentuk tindakan, yaitu menyajikan materi pelajaran yang betul-betul aksesibel bagi penyandang cacat terkhusus kepada Tunanetra yang tidak jauh berbeda dengan teman-teman di sekolah tersebut sampai dengan persiapan pelaksanaan ujianpun untuk tunanetra beliaulah yang langsung turun tangan.
Bapak Salikul hadi, salah seorang Guru SMU Datuk ribandang juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap peserta didik dari kalangan penyandang cacat khususnya kepada kaum tunanetra yang ber sekolah di SMU Datukribandang yang juga merupakan tempat penulis menimba ilmu khususnya ilmu-ilmu social yang sedang di tekuninya.
Kak Amrin, salah seorang wartawan berita kota yang juga tercatat dalam struktur kepengurusan Bamperxii, adalah contoh jurnalis yang telah melakukan kegiatan sebagai bentuk dukungan dan apresiasi beliau yaitu mempublikasikan kegiatan yang berkaitan dengan para penyandang cacat di berbagai momen dan berbagai kesempatan.
Inilah harapan dari kami kaum penyandang cacat yang dapat kami lontarkan pada momen hari internasional penyandang cacat 2008, saya (penulis) sebagai bagian dari penyandang cacat merasa tidak lah cukup jika masyarakat hanya meminta kami untuk kuat dalam menjalani kehidupan yang keras ini tanpa kesempatan dan media untuk melakukan hal-hal yang mampu kami lakukan untuk mengangkat harkat dan martabat.

Postingan Terkait Lainnya :


Widget by BAMPERXII.Co.cc
BlaGaBloGer mengatakan...

Kunjungan perdana nie....
Setuju, semoga Tali silaturahmi bisa berjalan dengan baik.... ^_^

Your cOmment"s Here! Hover Your cUrsOr to leave a cOmment.

Kata Mereka

Ketua DPD PERTUNI SULSEL Hamzah M.Yamin
Dengan adanya website ini, memberikan warna tersendiri mengenai penyandang cacat, terkhusus tunanetra, media website menjadi salah satu bentuk sosialisasi yang sangat bagus dengan jangkauan internasional,sehingga upaya mempublikasikan sahabat tunanetra dapat terjangkau secara menyeluruh. Aksi yang dilakukan BAMPER XII sebagai organisasi volunter / mitra PERTUNI sangat membantu kinerja DPD PERTUNI SULSEL dan penyandang tunanetra khususnya, teruslah memberikan satu kebaikan kepada mereka yang membutuhkan