SELAMAT BERKUNJUNG,BERGABUNG MENJALIN IKATAN KEMITRAAN

Jalinan Kemitraan digalang oleh rasa simpati yang menggerakkan diri tuk berbuat "satu" namun memberi "seribu satu" makna,bagi eksistensi organisasi dan menciptakan karsa bagi mereka [Tunanetra]menghilangkan sikap stereotype,diskriminatif dan antipati sehingga mereka dapat eksis dalam kehidupan menuju penyetaraan [Berbuat Untuk Tunanetra,Berbuat Untuk Semua] Bagi sahabat yang ingin berbagi dan mendukung Program Kami,Kampanyekan Blog ini dengan mengcopy Banner Komunitas Peduli Tunanetra.Klik Disini
Buat Para Sahabat Pengunjung ,Blogger,Anggota KAPTEN MITRA,dan Anggota BAMPER XII,kami tunggu masukan dan sarannya yah, demi membangun organisasi kami dan terkhusus kepada para penyandang cacat khususnya Tunanetra.
Kami merekomendasikan Anda untuk mempergunakan Mozilla FireFox Web Development & Hosting

Minggu, Januari 04, 2009

AGAMA, BUDAYA DAN ETIKA SEBAGAI PILAR SASTRA DAN SENI

Seperti minggu-minggu sebelumnya, saya tak melewatkan membaca habis halaman budaya harian FAJAR. Selain karena berkecimpung di bidang sastra dan aktivitas sosial, saya juga ingin tahu siapa dan bagaimana isi tulisan teman-teman penulis muda yang dimuat hari itu, Minggu 14 Desember 2008.Seperti dugaanku, salah seorang sahabat saya, Irwan, artikelnya dalam kolom apresiasi dimuat hari itu. Namun saya tidak langsung membaca tulisan tersebut. Masih sama seperti biasa, membaca puisi terlebih dahulu yang waktu itu memuat 3 karya Dg. Mangeppek yakni Elegi Dalam Hati 1 dan 2 serta Wajah Tuhan yang mana isinya mengandung pesan agama atau reliji namun tetap ada kaitannya dengan budaya.
Kemudian saya beralih membaca tulisan Ayahanda Nur Alim Djalil (beliau sudah seperti guru buat saya) pada kolom percik dengan judul Komit dimana isinya mengandung pesan etika namun tetap ada nuansa agama. Dan tentu saja saya juga membaca cerpen karya Arwan Alimin yang berjudul Polisi Kampung itu dimana temanya tentang kepahlawanan yang kebetulan masih dalam suasana mengenang kembali peristiwa keganasan Westerling di Sul-Sel. Dalam cerpen tersebut ada pesan budaya dan etika yang tersirat. Kesimpulan saya, ketiga karya sastra tersebut yakni cerpen, essay dan puisi selalu dibingkai oleh 3 aspek kehidupan. Ketiga aspek tersebut adalah agama, budaya dan etika. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa agama, budaya, dan etika adalah pilar sastra yang juga bagian dari seni.
Membaca artikel Irwan pada kolom apresiasi, saya cukup tertarik dengan judulnya “Melawan Hegemoni dengan Film”. Tulisannya cukup bagus dan menambah pengetahuan saya tentang seni terutama di bidang perfilman. Tapi, pada 2 paragraf terakhir tulisan tersebut, ada sesuatu yang ganjil menurut saya. Selain belum menemukan secara pasti hegemoni apa yang menjadi objek perlawanan, ada kesan bahwa objek yang dimaksud adalah agama, budaya dan etika. Dengan kata lain salah satu, salah dua atau mungkin ketiganya bisa jadi penghambat dan memperkaku kreatifitas.
Ketika keganjilan ini saya utarakan melalui sms, sahabat saya ini menjawab dengan bijak, juga lewat sms “sepertix perdebatan akn panjang klo kita bhs itu nursam. krn mungkn kita beranjak dari akar yg beda”. Demikian bunyi smsnya, dan karena aktivitas dan kesibukan masing-masing, cukup sulit bagi kami untuk bisa bertemu dan membahas hal tersebut. Namun demikian, menurut hemat saya, interpretasi nilai rasa suatu karya sastra sangat bergantung kepada pembacanya dan atau penikmatnya. Olehnya itu tak ada salahnya melalui tulisan ini saya mengeluarkan sedikit unek-unek yang ada di kepala saya, terlepas dari salah benarnya pandangan saya tentang hegemoni yang tertuang dalam artikel tersebut.
Ketika ada kesan bahwa agama, budaya dan etika bisa menghambat kreatifitas seni dan kebebasan berekspresi, rasanya hal ini sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai sastra yang juga adalah begian dari seni. Sastra, yang sangat identik dengan dunia penulisan tentu akan tetap berpegang pada ketiga atau minimal salah satu dari ketiga aspek kehidupan tadi.
Memang dunia perfilman yang identik dengan tekhnologi dan kebebasan berekspresi cukup hebat dan bahkan sangat hebat menjadi wadah transformasi nilai-nilai budaya dan etika. Tapi apakah transformasi itu selalu berdampak positif? Rasanya tidak. Salah satu dampaknya seperti yang diutarakan oleh ibu Herlina (kontestan guru favorit) di halaman 22 harian FAJAR edisi selasa 9 Desember 2008. ibu Herlina berpendapat “Jauh sekali bedanya anak-anak dulu dengan yang sekarang. Kalau dulu guru benar-benar dihormati. Saya benar-benar merindukan hal seperti itu”. Beliau juga menambahkan etika pelajar saat ini banyak dipengaruhi oleh dampak globalisasi dan pergaulan di lingkungan sekitar. Namun nilai positifnya, perkembangan tekhnologi di masa kini semakin memudahkan metode belajar mengajar.
Seorang seniman dan atau sastrawan sejati adalah mereka yang tetap berpegang teguh pada ketiga aspek kehidupan tadi yakni agama, budaya dan etika. Saya tak dapat membayangkan betapa rusaknya tatanan kehidupan kita jika ketiga aspek tersebut dinafikan demi terwujudnya ketidakkakuan. Tegakah kita sebagai penulis, sastrawan ataupun seniman membiarkan, mendukung atau bahkan menyebarluaskan lewat media seni ataupun tulisan tentang fenomena homo, lesbian, ataupun sex bebas yang lambat laun dianggap hal yang lumrah di tengah masyarakat dan bahkan merusak tatanan sosial yang telah dibangun oleh ketiga aspek tadi? Dalam konteks ini, budayawan Taufik Ismail sudah menjewer kesadaran kita tentang eksistensi komplotan Gerakan Syahwat Merdeka (GSM) yang salah satu banditnya adalah sastrawan dan atau seniman.
Sungguh ironi jika tulisan-tulisan yang bergenre remaja namun masih menggunakan nilai-nilai agama, budaya dan etika dianggap ketuaan dan ketinggalan jaman. Bukankah remaja harus dibimbing dengan ketiga aspek tadi? Hingga nantinya mereka mampu mensharing mana yang mesti dicontoh dan mana yang harus dibuang.
Alhasil, bagaimanapun agama, budaya, dan etika harus menjadi landasan utama dalam menghadapi problematika kehidupan. Ketiganya adalah simbol keutuhan umat, bangsa dan dunia pada umumnya. Ketiganya tidak mengekang (bukan hegemoni) tapi menjaga dan memperbaiki tatanan masyarakat yang telah dan akan rusak. Ketiganya memperkokoh eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Makhluk yang berbeda dengan binatang.

Dimuat di Harian FAJAR Pada Minggu, 28 Desember 2008

Postingan Terkait Lainnya :


Widget by BAMPERXII.Co.cc
Anonim mengatakan...

Salam kenal, Seno. Selamat menjalin kemitraan.

Anonim mengatakan...

salam balik for Seno

kuryt mengatakan...

Blog walking...

thanks for your information i like it so much..And i hope you can up to date you information every day

visit our bog in Myokezone

Your cOmment"s Here! Hover Your cUrsOr to leave a cOmment.

Kata Mereka

Ketua DPD PERTUNI SULSEL Hamzah M.Yamin
Dengan adanya website ini, memberikan warna tersendiri mengenai penyandang cacat, terkhusus tunanetra, media website menjadi salah satu bentuk sosialisasi yang sangat bagus dengan jangkauan internasional,sehingga upaya mempublikasikan sahabat tunanetra dapat terjangkau secara menyeluruh. Aksi yang dilakukan BAMPER XII sebagai organisasi volunter / mitra PERTUNI sangat membantu kinerja DPD PERTUNI SULSEL dan penyandang tunanetra khususnya, teruslah memberikan satu kebaikan kepada mereka yang membutuhkan